| Bagaimana Yesus Mengembangkan Wanita Sebagai Pemimpin? |
|
|
|
| Ditulis oleh Handoyo | |
| Selasa, 26 Agustus 2008 | |
|
sebagai model untuk mengembangkan pemimpin masa kini. Contohnya, berdasarkan Markus 3:13-19, Yesus memilih dua belas murid, menunjuk mereka untuk menjadi pengikut-Nya, dan mengutus mereka (memilih, mengajar, memercayakan). Model lain didasarkan pada Lukas 5:1-11, di mana Anda dapat melihat Yesus memilih dua belas orang dan melatih mereka menjadi pemimpin di masa depan.
Lalu bagaimana dengan wanita? Jika pada era gereja mula-mula kita
melihat wanita muncul dalam kepemimpinan bersama para pria, apakah
mungkin untuk melihat bagaimana para wanita juga dipilih, dilatih, dan
diutus mengemban tugas kepemimpinan? Saya yakin iya. Dalam Injil, kita
dapat melihat bagaimana Yesus, sambil memilih dua belas orang sebagai
murid, juga mulai mengembangkan wanita, mengubah tradisi pola pikir,
dan mulai memulihkan rekanan antara pria dan wanita dalam gereja dan
dunia yang rusak sejak jatuhnya manusia dalam dosa.
DUA BELAS MURID DAN PARA WANITA Yesus memilih dua belas pria sebagai murid-Nya. Hal ini terkadang digunakan sebagai alasan mengapa wanita seharusnya tidak turut andil dalam pelayanan dan kepemimpinan. Jelas kedua belas murid itu menduduki posisi yang spesial, namun di antara mereka yang dekat dengan Yesus, ada juga sejumlah pengikut wanita, dan Yesus mengembangkan mereka sebagai pemimpin. Fakta bahwa wanita adalah murni pengikut, dalam budaya di mana ada sedikit wanita yang melek huruf dan memiliki pendidikan formal, bertentangan dengan kehidupan masa kini. Dengan mengumpulkan temuan-temuan terbaru dalam ilmu pengetahuan Injil, adalah mungkin untuk mengatakan bahwa Yesus tidak hanya mendorong wanita untuk mengikut-Nya, tapi juga untuk memimpin orang lain. Lukas 8:1-3 adalah ayat kuncinya. Di sana, kita dapat melihat sejumlah wanita menemani Yesus, bersama dengan kedua belas murid (yang disebutkan dalam Lukas 6:12-19). Menurut Richard Bauckham, dalam Gospel Women, ayat 1-3 adalah pernyataan ringkas yang mengindikasikan bahwa peristiwa itu terjadi berulang kali dalam periode waktu yang tak menentu. Dengan kata lain, meski ayat itu adalah referensi kecil, ayat itu mengindikasikan bahwa wanita berjalan bersama Yesus secara rutin. Bauckham juga menantang terjemahan NRSV, dan mengatakan bahwa teks Yunani dengan jelas mengatakan bahwa Yesus "bersama" dengan kedua belas murid dan para wanita: "Kedua belas murid bersama-Nya, juga para wanita ...." Di sini Yesus mengategorikan murid-murid-Nya menjadi dua kategori besar, dua belas pria dan wanita. Fakta bahwa wanita ada untuk membantu Yesus bukanlah intinya, inti pentingnya ialah bahwa para wanita itu bersama Yesus. Itulah makna pemuridan, dan baik pria maupun wanita sepertinya sederajat; tinggal menunggu waktu saja sampai Yesus mendelegasikan pelayanan-Nya kepada semua murid-Nya. Bauckham juga menegaskan bahwa wanita tidak ditugasi dengan hal-hal yang biasanya wanita lakukan dalam rumah tangga. Dalam teks Yunani dikatakan bahwa tidak ada pria yang membantu pelayanan Yesus dalam bentuk materi, hanya murid yang wanita saja yang memberikan bentuk bantuan tersebut kepada Yesus dan murid-muridnya. Dua belas murid pria sama-sama telah mengorbankan dan meninggalkan rumah dan keluarga mereka untuk mengikut Yesus (Lukas 5:11). Untuk seorang wanita terhormat seperti Yohana, mengikut Yesus juga merupakan pengorbanan besar. Bergabung dengan suatu kelompok seperti Yesus dan murid-murid-Nya yang bisa dikatakan bukan kelompok elit pada saat itu, pasti menjadi sebuah skandal besar.
Hampir semua Injil menuliskan wanita-wanita yang menemani Yesus dalam
perjalanan pelayanan-Nya (Matius 27:55-56; Markus 15:40-41; Lukas
23:49). Para wanita ada di kubur Yesus (Lukas 23:49) dan menyaksikan
kebangkitan (Lukas 24:1-11). Dalam Injil Yohanes, wanita digambarkan
sebagai sosok yang patut diteladani dengan Maria Magdalena sebagai
contoh utamanya. Jadi, para intelektual menyimpulkan bahwa perbedaan
antara kelompok pengikut Yesus yang pria dan wanita tidak sebesar
anggapan selama ini. Para wanita "bersama"-Nya di sepanjang
pelayanan-Nya, mengamati-Nya, dan siap sedia untuk meneruskan
pelayanan-Nya setelah kebangkitan-Nya. Tulisan Yohanes mengenai kematian Lazarus (Yohanes 11:17-44) juga perlu diperhatikan. Inti dari kisah tersebut bukanlah Lazarus, namun percakapan antara Yesus dengan Maria dan Martha, terutama Martha. Pengakuan imannya mengungkapkan bahwa ia telah sungguh-sungguh belajar, dan ia membuat suatu deklarasi yang paling jelas akan imannya terhadap Injil. Maria juga menunjukkan keterusterangan dan iman yang sama.
Dalam Yohanes 12:1-8, kita melihat bagaimana Maria mengurapi kaki
Yesus -- menariknya, peristiwa itu mengawali pembasuhan kaki
murid-murid oleh Yesus di pasal yang ke-13. Interrelasi antara dua
pasal tersebut menunjukkan bagaimana Maria memberikan teladan pelayanan
dan pemuridan, dan partisipasi dalam penderitaan dan kematian Yesus. Ketika Maria mengetahui bahwa Yesus telah bangkit, ia berteriak, "Rabuni", yang diartikan Yohanes sebagai "guru" (Yohanes 20:16). Hal itu, dan fakta bahwa ia adalah salah satu wanita yang bepergian kemana-mana dengan Yesus dan belajar dari-Nya, mengisyaratkan bahwa ia adalah benar-benar murid Yesus, belajar dari-Nya untuk bekal saat ia menjadi pengajar dan pemimpin. Untuk murid-murid yang pertama, menjadi pengikut Yesus adalah lebih daripada menjadi pengikut guru-guru lainnya. Masa depan iman Kristen tergantung pada murid-murid Guru Yesus dan bagaimana mereka berhasil memberikan apa yang mereka dapat dari-Nya, dengan mengajarkan apa yang Ia ajarkan pada mereka dan dengan saling mengasihi seperti Ia mengasihi mereka. Tampaknya wanita termasuk di dalamnya. Inti ceritanya ada di taman, di mana Yesus memandati Maria dengan tugas untuk memberitakan kabar sukacita kebangkitan pada saudara-saudaranya, sebelas rasul. Tidak heran jika ia disebut "rasul kepada rasul-rasul", dan jika kualifikasi sebagai rasul adalah bersama Yesus dan menyaksikan kebangkitan, maka dia (dan wanita lain) bisa dikatakan rasul, meskipun posisi mereka tidak secara formal diklaim sebagai pengganti Yudas (Kisah Para Rasul 2:21-22). Seperti dikatakan Carolyn Custis James, secara budaya, sah-sah saja untuk para rasul membatasi wanita pengikut Yesus setelah Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Tapi tidak demikian bagi Yesus. Ia telah mengangkat wanita dengan melibatkan mereka sebagai murid dan pada saat kebangkitan-Nya, Ia menegaskan pelayanan mereka sebagai pembawa pesan. Para penulis Injil tergantung pada kesaksian wanita seperti Maria ibu Yesus dan Maria Magdalena untuk menuliskan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Maria ibu-Nya, dan "beberapa wanita" yang ada di sana setelah kebangkitan, bertekun berdoa dan menunggu masa depan yang terbentang (Kisah Para Rasul 1:14).
Dari contoh di atas, kita dapat melihat bahwa Yesus membuka jalan
baru, sikap baru terhadap wanita, melihat apa peran mereka bagi Allah,
bukannya peran yang didikte oleh masyarakat. Saat Ia |
| < Sebelumnya |
|---|
Happy EASTER MARCH,2009
GOD BLESS YOU ALL